Sabtu, 15 Oktober 2022

Test

Bahasan peran pencinta alam sebenarnya adalah sebuah cerita basi, dari dulu sampai sekarang selalu menjadi bahan cerita. Sayang pembahasan ini belum begitu dibarengi dengan langkah-langkah strategis. Sekian banyak organisasi yang mengatas namakan dirinya sebagai pencinta alam ternyata berjalan beriringan dengan tingginya angka kerusakan lingkungan. Setuju atau tidak, salah satu unsur pengrusakan alam bisa jadi ada dalam aktivitas pencinta alam itu sendiri.
Sulit dibedakan mana yang memang anak pencinta alam atau bukan secara tampilannya. Yang bawa ransel belum tentu anak pencinta alam dan bahkan yang bisa panjat tebit pung tidak mesti harus masuk organisasi pencinta alam terlebih dahulu. Lalu apa yang membedakannya?, hanya sikap, kepedulian dan nilai-nilai luhur yang dianutnya. Sejatinya, pencinta alam bukan diukur secara penampilan, tapi lebih kepada nilai, jiwa, sikap, solidaritas, pandangan dan tindakan mereka terhadap penyelamatan lingkungan atau alam. Selain aktif dalam kegiatan alam bebas, mereka juga peduli terhadap perlindungan dan pelestarian dari wadah bermainnya.
Lalu yang menjadi tanda tanya besar sekarang adalah, apakah sikap, kepedulian dan nilai-nilai luhur yang melekat pada anak pencinta alam itu masih ada? Ataukah sudah tergerus dan kemudian sama dengan mereka yang jelas-jelas bukan berlabel pencinta alam?. Pertanyaan serius ini memang tidak mudah dijawab. Akan tetapi fakta menunjukkan bahwa pada umumnya kita memang lebih terlena pada romantisme petualangan. Aktivitas-aktivitas kampanye lingkungan, demo-demo atau peringatan hari bumi atau lingkungan tak lebih menjadi sebuah seremonial belaka. Belum dibarengi dengan pen-darah dagingan nilai-nilai lingkungan dalam jiwa seorang pencinta alam.
Hobi naik gunung tidak mesti harus terhenti karena mau menyelamatkan lingkungan, sebab melindungi lingkungan tidak mesti harus ada event khusus, hari khusus atau jumlah orang yang banyak. Cukup dengan mengantongi sampah dalam baju atau celana kalau tidak ketemu tempat sampah rasanya sudah jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Rasa-rasanya sudah selayaknya, kemudi yang selama ini agak sedikit melenceng dari pemaknaan sebenarnya tentang pencinta alam harus dibenahi. Sebelum ini berlarut dan menjadi arah jalur atau kebiasaan bagi seorang pencinta alam. Dan orang yang sudah terlanjur atau berkeinginan masuk dalam sebuah organisasi pencinta alam harus bisa membedakan dirinya dengan mereka yang bukan anak organisasi pencinta alam. Sudah saatnya anak-anak pencinta alam menjadi pembicara dalam seminar-seminar atau diskusi yang membahas tentang lingkungan atau alam. Mereka harus menjadi `opinion leader' dalam isu-isu lingkungan, dan bukan pengekor isu. Bukan tidak mungkin artinya, anak pencinta alam bisa memiliki posisi tawar yang lebih kuat ketika mengkritisi persoalan lingkungan dihadapan publik. Dengan kelengkapan data-data dari perjalanan (pendakian, mis) yang telah dilakukan dan kemampuan lapangan serta ruangan yang tangguh, rasanya tidak ada lagi yang akan memandang sebelah mata anak-anak pencinta alam.  Terakhir, memutar kemudi ini sekali lagi harus diawali dengan kejujuran dan komitmen yang kukuh. berangkatnya hanya dari sebuah pertanyaan sederhana "Sebagai anak Pencinta Alam, apa kontribusi kita terhadap alam??".

Hal ini akan berakibat positif jika masyarakat bisa memahami hal itu dan mengenai lebih dekat siapa sebenarnya pecinta alam itu. Dengan begitu dengan penuh kesadaran pula pacinta alam akan melakukan hal – hal yang tepat guna bagi dirinya sendiri pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Kita sadar bawasannya kita tidak hidup sendirian dalam masyarakat. Image yang kurang baik dari masyarakat yang diakibatkan oleh aktivitas individu tinggallah sebagai ulah individu bukan lagi di cap sebagai aktivitas komunitas pecinta alam.

Seberapa tahan kita akan melakukkannya, tinggal seberapa kuat tingkat ketahanan kita untuk mewujudkannya menjadi sebuah kenyataan atau fakta, bukan lagi sekedar paradigma. Manjadi baenar pecinta alam dikenal dimasyarakat kita, itu memang tidak mudah tapi disitulah letak tantangannya. Pecinta alam yang punya jiwa sosial yang tinggi, suka berpetualang, menyukai tantangan dan peka serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Dengan begitu kita akan benar – benar sadar akan peran kita di masyarakat luas sebagai pecinta alam.

Melakukan aktivitas di alam bebas merupakan kebahagian yang beda baguku, dibandingkan dengan acara nonton musik di acara festipal atau apalah yang tempatnya biasanya di tengah keramaian kota yang sangat bising. Sedangkan di alam bebas katakan saja hutan atau perkampungan dan dusun, kita bisa nikmati keindahan alam yang bebas dengan udara yang segar dan hangatnya sambutan warga dusun. Sungguh pengalaman yang sangat indah dan berharga bisa mngenal mereka, yang hidupnya dilewati dengan segala kesederhanaan dan kepolosan.

Kenapa aku senang melakukan perjalanan dan pendakian gunung atau bukit, ya karena apa yang aku temukan di gunung tentunya tidak bisa aku dapatkan di supermarket dan tempat nongkrongku dikota. Rinkas kata melakukan petualangan di alam bebas itu adalah aktivitas yang tidak membosankan dan banyak cerita yang bisa kita share pada teman dan orang lain.

Seperti banyak orang mengatakan bahwa orang yang sering beraktivitas di alam bebas bisa di sebut PA (Pecinta Alam), kenapa dibilang begitu mungkin karena di anggap sudah jatuh cinta pada alam atau pecinta alam adalah orang yang peduli kepada alam secara utuh dalam artian selalu membela hak- hak lingkungan hidup. Aku pun juga mo bilang aku adalah pecinta alam hanya karena aku terlalu sering naik turun gunung dan lembah mungkin. Tentunya bebas aja kan orang menyebut dirinya pecinta alam karena untuk ukuran atau standart bagi pecinta alam tidak ada. Baik dia seoarang mahasiswa yang sudah mengikui latihan dasar di mapala, remaja yang bergabung dengan orapala, siswa yang latdas terus jadi anggota sispala, pelang merah indonesia, bahkan pramuka dan orang yang Cuma sekedar hobby naik gunung. Mereka juga berhak mengakku sebagai pecinta alam karena tidak ada yang melarang.

Nach disini q cuma mau bilang PALASE (Pecinta Alam Sekolah) SMK Negeri 1 Bawang, Banjarnega beda dari anak PA yang lain, qt punya kemampuan yang lebih...Untuk itu buktikan bahwa Xan Mampu bersaing dengan mereka semua...PALASE g akan hancur kita akan bertahan walau badai terus menerjang, yakinlah kita kuat asal kita bersatu...

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar